Archive for April, 2008

“Filter Situs Asusila” Sudah Bisa Di-download

14 April 2008

situsporno

JAKARTA – Departemen Komunikasi dan Informasi hari ini meluncurkan software yang dapat digunakan untuk menutup akses ke situs-situs porno. Software ini disebut Filter Situs Asusila. 

Dalam kesempatan ini juga, Depkominfo melakukan demo download software tersebut. Software dapat diakses secara gratis melalui situs depkominfo di www.depkominfo.go.id . Link download terdapat di sisi kanan situs dalam blok berwarna biru.

“Klik saja folder ‘Filter Situs Asusila’, di dalamnya ada aplikasi berbentuk zip dan panduan sosialisasi yaitu panduan bagaimana cara menginstall,” ujar salah satu staf yang melakukan demo kepada pers tentang penutupan konten film Fitna dan demo software anti pornografi, Jumat (11/4).

Menteri Komunikasi dan Informasi Muh.Nuh mengatakan bahwa Depkominfo akan segera mensosialisasikan akses untuk men-download software berukuran 5 MB ini. Masyarakat juga akan diajak untuk berpartisipasi dalam pemberantasan situs-situs pornografi dengan melaporkannya melalui email.

“Kita akan lakukan gerakan massal dengan sekolah, Diknas, departemen, dan lembaga sosial keagamaan. Dari situ saya berharap biosis mitosis,” ujar Nuh untuk menjelaskan bagaimana upaya kerja sama ini dapat terus berkembang di lingkungan lain seperti pembelahan yang terjadi pada hewan amoeba. Nuh menambahkan, dalam upaya memberantas pornografi di Indonesia, peluncuran software ini ke masyarakat adalah bagian dari upaya tanggung jawab teknis yang bisa dilakukan oleh pemerintah.

Sementara itu jurbicara Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) , Ismawan, melihat bahwa masyarakat juga harus turut mendukung melalui tanggung jawab moral, seperti yang dijelaskan Menkominfo sebelumnya. “Ini tidak hanya bisa pemerintah saja yang tangani, tapi ini masalah kita bersama,” ujar Ismawan. (LIN)

Source: Kompas.com  

Iklan

Friendster Yakin 99,9 Persen Bebas Gambar Porno

12 April 2008

JAKARTA, KAMIS – Friendster yakin situsnya bebas dari materi pornografi sehingga tidak akan menghadapi masalah pemblokiran di Indonesia. Hal tersebut disampaikan David Jones, Vice President of Global Marketing Friendster di sela-sela peluncuran Friendster edisi Bahasa Indonesia di Blitz Megaplex, Jakarta, Kamis (10/4).

Penyedia layanan jaringan sosial online terbesar di Indonesia itu telah menjalankan prosedur penyaringan yang membuat mater-materi pornografi sulit ditampilkan di situsnya. Pemantauan terhadap konten yang muncul di Friendster dilakukan baik secara manual oleh staf-stafnya maupun secara otomatis dengan software yang akan menyaring gambar porno.

“Kami sejak awal sudah menetapkan untuk melarang pornografi, SARA, dan bicara kasar sehingga ini menjadi pegangan pertama bagi pengguna Friendster,” ujar Jones.

Untuk menghindari risiko penyalahgunaan aturan tersebut, pihaknya juga menyediakan email pengaduan sehingga setiap pengguna dapat melaporkan materi pronografi yang ditemukannya di jaringan Friendster. Dari laporan inilah, para staf Friendster akan melakukan verifikasi.

friendster

Jones mengatakan saat ini terdapat 9 orang staf yang bekerja memantau konten tersebut, 5 orang di San Fransisco dan 4 orang di Manila yang bekerja 24 jam secara bergantian. Selain dari laporan tersebut, mereka juga melakukan pemantauan rutin terhadap foto-foto yang paling sering dikunjungi, seperti kategori populer dan foto-foto di halaman Fan Profiles.

Tidak tanggung-tanggung, jumlah foto yang harus dipantau rata-rata sudah lebih dari 50 juta setiap hari. Pengguna yang ketahuan terlalu sering memasang gambar porno bisa dihapus profilnya. Meski demikian, Jones yakin foto-foto porno bisa dicegah seminimal mungkin.

“Saya yakin 99,9 persen tidak ada pornografi di Friendster,” ujarnya penuh optimistis. Ia yakin para pengguna Friendster sejak awal adalah orang-orang yang ingin membangun perkawanan sebenarnya sehingga mereka akan menjaga jaringan sosialnya bersih dari hal-hal yang tidak mengenakkan.

Source: Kompas.com

100.000 Website Porno Memakai Model Anak-anak

12 April 2008

childporn

TEMANGGUNG – Dari 4,2 juta website porno yang beredar di seluruh dunia, sebanyak 100.000 website diantaranya memakai model anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Sebagian besar diantaranya, bahkan ditengarai adalah anak-anak Indonesia.

Demikian hasil survei tahun 2006, dari Top Ten Review, yang dituturkan oleh Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Masnah Sari, dalam acara sosialisasi Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak-anak di Kabupaten Temanggung, Rabu (9/2).

Masnah mengatakan bahwa gambar-gambar yang ditampilkan dalam website dengan model anak-anak itu, cukup bervariasi. “Selain memperlihatkan figur telanjang anak, beberapa gambar juga menampilkan adegan hubungan seksual yang dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak atau biasa disebut paedofilia,” ujarnya.

Pengambilan gambar anak-anak sebagai obyek seks terutama pada kasus paedofilia, banyak dilakukan oleh warga  negara asing. Di Surabaya misalnya, menurut Masnah, sekelompok anak-anak pernah disekap dan disuguhi video atau gambar-gambar porno. “Ketika mereka sudah terpancing dan merasa terangsang, maka orang dewasa yang menyekap itu, akan lebih mudah untuk mengajak anak-anak berhubungan seks dengan meniru gambar dan adegan yang telah ditonton sebelumnya,” ujarnya.

Mengajak anak-anak untuk melakukan itu, juga bukan hal yang sulit, hanya cukup dengan diberi iming-iming permen atau sedikit uang. Kondisi ini banyak terjadi di Bali, dan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta dan Tangerang.

Tidak hanya sekedar diajak, pada masa sekarang ini, anak-anak pun dapat dengan mudah menjalankan perilaku seksual layaknya orang dewasa, atas kemauan sendiri. “Dalam hal ini, yang menjadi obyek atau korban, adalah teman-teman sebaya dari lingkungan sekitar, sekolah atau bahkan kerabatnya sendiri,” ujarnya.

Sebagai contoh kasus, Masnah menuturkan bahwa pada tahun 2006, seorang murid kelas enam SD hamil akibatnya diperkosa kerabatnya berusia sebaya. Selain itu, pada tahun yang sama, tiga remaja di Ambon yang masih berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah memperkosa anak usia lima tahun.

Hal ini, menurut Masnah, dipicu karena makin tidak terkontrolnya tayangan, gambar, dan produk-produk pornografi lain beredar dan ditonton oleh anak-anak sejak usia dini.

Berdasarkan hasil survei pada Januari-Desember 2007, yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 1.705 siswa kelas 4,5, dan 6 se-Jabodetabek, media terbanyak yang dipakai untuk mengakses pornografi adalah games, disusul berikutnya komik, film/televisi, dan situs-situs di internet.(Regina Rukmorini)

Source: Kompas.com